Pengetahuan tata cara beternak hewan

HASIL APIKULTUR MADU

Penyebaran lebah madu lebih merata diseluruh Dunia, Jika dibandingkan dengan penyebaran hewan serangga dan hewan lainnya. Dimana ada manusia disitu lebah berada. Oleh karena itu, keduniaan madu telah dikenal sejak ± 10000 tahun yang lalu, sejak manusia hidup masih sangat primitif. Pada Jaman dahulu madu dipakai untuk mengawetkan daging dan kulit. Orang mesir pada waktu itu mempergunakan madu sebagai bagian dari ramuan rahasianya untuk mengawetkan jenazah raja-raja. Yang dikenal dengan nama mummi. Sejak itu madu telah dikenal sebagai makanan, obat, makanan, obat, minuman, bahkan kecantikan dan bahan yang penting dalam pesta upacara agama.
Begitu terkenalnya madu pada zaman itu sehingga pajak di Babylonia dan dimesir tidak dibayar dengan uang, tetapi dengan madu. Pada waktu itu gula tebu dan gula yang lain belum diketemukan orang, karenanya madu merupakan zat manis satu-satunya yang dipakai untuk segala keperluan. Dahulu para atlit-atlit selalu minum madu sebelum bertanding , dengsn hsrspsn untuk menang. Madu sebagai sumber tenaga yang mudah digunakan oleh tubuh. Madu dicampur dengan air merupakan minuman kesayangan bangsa Inggris dan Jerman. Minuman bir dengan madu adalah suatu kegemaran umum. Petani Eropa sampai sekarang masih memegang teguh tradisi kuno. Disana madu dihasilkan sebagai makanan penting bagi tubuh yang menyehatkan. Kata mereka tidak ada makanan yang lebih nikmat kecuali sepotong roti yang dioles dengan madu dan mentega susu. Orang Eropa dan Amerika kebanyakan memberikan madu kepada anak-anaknya, disamping susu untuk mencegah kekurangan gizi mereka.
Perlebahan di Indonesia pada galipnya telah diusahakan oleh rakyat sejak berabad-abad yang lalu hingga sekarang dalam bentuk yang masih primitif dan masih banyak dijumpai didesa-desa dipelosok tanah air dengan nama perumpun atau glodok. Biasanya pemakaian madu disini masih sangat terbatas dirumah sakit atau diberikan kepada bayi tersebut dapat disusui oleh Ibunya. Produksi madu di Indonesia hingga dewasa ini masih belum tercatat dalam statistik. Tetapi mengingat luasnya ± 120 juta hektar yang penuh dengan beraneka ragam tumbuh-tumbuhan, dari yang kecil sampai yang menjulang tinggi dengan musim bunga yang susul-menyusul, boleh dikata tidak pernah terputus sepanjang tahun.
Sudah terang bahwa indonesia mempunyai potensi yang tidak dapat diabaikan begitu saja dalam pengembangan apiari untuk menjadi pengekspor madu di dunia. Pada saat ini madu Indonesia yang dihasilkan dari Sumba, Sumbawa, Kalimantan timur, Riau, Lampung, dan Jawa belum mempunyai mutu madu ekspor.
Untuk menggalakan peternak lebah secara menyeluruh, pada tanggal 14-18 Maret 1977 telah diselenggarakan Seminar Peternak Lebah Nasional yang pertama, yang disponsori oleh Kuartir Nasional Gerakan Pramuka, yang bertempat di Pusdiklat DKI Kuningan Jakarta. Diperkirakan oleh seminar, bahwa Indonesia mempunyai kemampuan potensial menghasilkan madu sebanyak 80.000 ton dalam setahun. Sampai tahun 1974 diseluruh dunia tercatat 15 juta peternak lebah madu dengan jumlah koloni sebanyak 45 juta dan menghasilkan madu sekitar 270.000 ton dalam setahun.
Warna madu tergantung dari jenis tanaman asal dan sifat tanah, tetapi tingkatan pemanasan mempengaruhi warna pula. Pemanaasan madu yang lama, mempertua warna. Panas yang tinggi mengoksidir beberapa zat gula, terbentuklah kerak gula yang berwarna coklat yang memberikan bau gosong pada madu. Bagi negara yang telah maju dalam berlebahan, misalkan di Amerika, warna madu yang dipasarkan harus memenuhi syarat, dengan patokan warna yang telah ditentukan. Aroma madu ada hubungannya dengan warna madunya, makin gelap warnanya maka aromanya makin tajam tapi aroma madu mudah menguap oleh karena itu madu harus dirawat dan ditutup rapat dengan hati-hati sekali. Kalau aromanya telah hilang maka akan hilang pula daya tariknya sehingga madu tersebut tidak berbeda jauh dengan sirup. Pemanasan akan menghilangkan sebagian dari aroma, sedangkan aroma telah mulai berkurang sepanjang proses ekstrasi, Usahakan madu diarkan terbuka sedikit mungkin, paling baik madu jangan dipanasi agar tidak banyak kehilangan aromanya.
Banyak sedikitnya air dalam madu menentukan keawetan madu teersebut, madu yang airnya tinggi mudah berfermentasi, fermentasi akan terjadi karena jamur yang terdapat dalam madu, jamur ini akan tumbuh aktif bila air dalam tinggi. Sewaktu madu tersimpan dalam sel sisiran yang tertutup rapat, selama itu madu tidak mengalami fermentasi maka kandungan air pada madu yang demikian iniakan rendah sekali yang berkisar antara 17,4%, masa jenisnya 1,4212 gr/cc pada temperature 20o C madu ini tidak akan berfermentasi meskipun dalam bentuk Kristal. Nektar dihisap oleh lebah madu, kemudian ditelan oleh lebah , masuk kedalam perut madu. Sesampainya disarang nektar tersebut dikeluarkan lagi, dikunyah-kunyah dan akhirnya disimpan dalam sel agar masak, kemudian ditutup. Pemasakan ini terjadi karena kerja enzim invertasa, manipulasi lebah, isapan oleh air dinding perut madu, dan penguapan karena kipasan lebah. Enzim tersebut berasal dari nectar dan dari lebah, enzim ini akan mengubah sukrosa menjadi dekstrosa dan levulosa. 
Madu mengandung bermacam-macam zat, tergantung dari pada; macam nektar, sifat tanah dimana tanaman itu hidup, cuaca, derajat pemasakan dan cara ekstraksi, menurut Francis G. Smith madu yang telah masak mengandung zat-zat sebagai berikut :
Levulosa (Fructosa)                            : 41,0.
Dektrosa (Glukosa)                            : 35,0.
Sukrosa                                             : 1,9.
Dekstrin                                             : 1,5.
Mineral                                              : 0,2.
Zat-zat lain yang belum ditentukan      : 3,4.
Air                                                     : 17,0.
Mineral yang terkandung didalam madu yang terpenting yaitu : Na, Ca, Mg, Cu, Al, Mn, Fe, K dan P. Imbangan dan banyaknya mineral tersebut mendekati jumlah yang terkandung dalam darah manusia. Bermacam-macam vitamin juga terdapat dalam madu, yang larut dalam air maupun larut dalam lemak, diantaranya Vitamin B1, B2, B3, BP, Be, H, K, C, dan asam pantotenat. Kecuali itu madu mengandung semacam hormone yang berasal dari tubuh lebah, yang mempunyai peranan yang penting dalam bermacam-macam asimilasi, Diantaranya asimilasi zat gula dalam tubuh manusia.
Madu termasuk makanan yang berpotensi basa, lebih-lebih madu yang berwarna gelap, sedangkan daging, telur, lemak, biji-bijian bersifat asam. Keasaman yang menetralisir garam basa adalah sangat penting untuk tubuh kita, agar keseimbangan antara keasaman dan kebasaan tetap terpelihara, penimbunan asam yang bebas menyebabkan gangguan kerja dan dapat menurunkan daya tahan tubuh. Kalau dekstrosa mengkristal, memisahkan diri dari air dan levulosa, Kejadian ini dinamakan Granulasi, maka perbandingan airnya akan menjadi lebih besar, kejadian ini memberi kesempatan terjadinya fermentasi, tetapi kalau madu tersebut kadar airnya tidak lebih dari 17,4%, meskipun ia bergranulasi tidak akan terjadi fermentasi. Ada madu yang bergranulasi cepat dan menyeluruh membentuk kristal yang halus, ada pula yang bergranulasi lambat dan membentuk kristal besar.
Jika kadar dekstrosa tinggi, airnya rendah, lagi pula temperature rendah, granulasi berjalan cepat. Temperatur optimum untuk granulasi 14oC atau 57oF, jika madu disimpan dalam panas 27oC dan 80oF, madu tetap dalam keadaan cair, madu dalam suhu yang lebih tinggi dari 35oC dan 95oF akan mencairkan madu yang bergranulasi. Biasanya Kristal dekstrosa merata dalam larutan levulosa, tetapi kalau kadar air dalam madu tinggi, maka kistal dekstrosa berada dibawah lapisan levulosa. Tiap 100 gr madu bernilai 294 kalori. Kalau nilai madu kita bandingkan dengan nilai beberapa bahan makanan yang lain, dapat kita lihat seperti berkut :
Menurut daftar Departemen Kesehatan, perbandingan nilai kalori 1 Kg madu setara dengan 50 butir telur, 5,675 liter susu, 1,680 Kg daging, 25 buah pisang, 40 buah jeruk ( Kutipan dari Diktat Kursus Apikultur Gerakan Pramuka Jatim). Perbedaan Panenan madu antara lebah local ( Apis mellifera indica ligustica) dapat kita lihat pada faktor berikut. Untuk menjaga jangan sampai madu mengkristal, di India dipakai molasses atau gula tetes dan di Amerika memakai glukosa untuk dicampurkan kedalam madu. Tetapi, usaha ini menodai keaslian madu. Madu yang masih tertutup dalam sel tidak mengkristal. Jadi, kalau kita menyimpan madu yang telah masak sesuai dengan suhu tetap seperti madu masih belum dipanen maka akan tidak terjadi Kristal.
Madu yang baik seharusnya tidak dicampur atau dikotori oleh bahan lain seperti hancuran tempayak, hancuran sisiran, tepungsari. Pengotoran tersebut tidak saja merusak daya tarik madu, tetapi juga rasa, aroma, dan ketahanan disimpan. Jika madu yang belum tertutup dalam sel dipanen, harus dilakukan pemasakan buatan, kalau tidak, madu akan lekas rusak, karena masih mengandung banyak air. Pemasakan madu buatan yang paling sederhana ialah menjemur madu tersebut, agar sebagian air nya menguap. Selama penjemuran madu ditutup dengan kain yang tipis, agar tidak kemasukan debu, jangan sekali-kali merebus madu. Madu yang hangat, sesuai dengan suhu tetap dalam sarang, agar tidak teerjadi kristalisasi. Madu yang mengkristal halus seperti mentega, bukanlah madu yang telah rusak. Jika madu tidak segera dipergunakan dan dimasukan dalam botol, tuangkan dahulu malam cair diatasnya, dengan demikian madu tidak mempunyai hubungan lagi dengan udara luar.
0 Komentar untuk "HASIL APIKULTUR MADU"
Back To Top