Hijrah adalah sifat naluri lebah madu untuk memperbanyak koloni. Ratu mengeluarkan zat dari tubuhnya, dimana zat tersebut dijilati oleh lebah dan diteruskan kapada rekan-rekannya. Penyampaian zat ini sama dengan apa yang dilakukan mereka terhadap makanan. Selama zat tersebut mencukupi dan memuaskan dalam koloni, maka selama itu pula tidak akan dibuat sel khusus calon ratu. Jika tidak mencukupi lagi, maka pembuatan sel calon ratu tersebut di mulai.
Tetapi pada koloni yang menginginkan hijrah, tidak diketahui dengan jelas apakah zat itu mulai berkurang atau tidak, ataukah mereka telah bosan menyebarkan luaskan tersebut. Tanda pertama yang paling jelas bahwa timbul hasrat untuk hijrah yaitu berbentuk sel khusus, sel tersebut dibuat di pinggiran sisiran sebelah bawah dikotak tempayak. Karena adanya sel ratu tersebut, Maka ratu menjadi malas bertelur, bahkan ada kalanya ratu berhenti bertelur sama sekali. Oleh karena itu menjelang waktu hijrah, jumlah telur dan tempayak kelihatan hanya sedikit dalam sarang.
Pembentukan sel ratu karena hasrat untuk hijrah
Setelah tempayak calon ratu telah besar menjadi kepompong dan ditutup dengan sel, maka ratu yang tua bersama-sama dengan pengikutnya yang masih setia meninggalkan sarang dan pindah ke lain tempat. Perpindahan sebagian koloni beserta calon ratu, masih tetap tinggal di tempat lama. Rombongan pertama yang hijrah ini akan hinggap di suatu cabang untuk beberapa hari sambil menunggu lebah kurir yang bertugas mencari tempat menetap yang baru. Bila beberapa lebah kurir ini kelihatan keluar masuk di suatu tempat, menindakan bahwa dalam satu atau dua hari lagi.
Lebah hijrah sedang hinggap bersama-sama untuk beberapa jam sampai beberapa hari, menunggu lebah kurir membawa berita tentang lokasi baru.
Rombongan hijrah akan segera tiba. Pemberitahuan tenteng tempat yang baru tersebut juga diisyaratkan dengan tari-tarian. Rombongan hijrah yang dipimpin oleh ratu yang tua dinamakan hijrah yang pertama. Kita kembali pada sarang yang utama yang ditinggalkan, mungkin telah tersedia beberapa sel calon ratu yang telah terisi. Tempayak ratu yang muncul paling dulu akan diizinkan oleh penduduk koloni untuk melihat-lihat keliling kerajaan. Ada kalanya ratu muda ini diberi kesempatan juga untuk membunuh sisa calon ratu yang masih di dalam sel. Jika hal ini terjadi maka ratu muda itu segera melakukan kawin terbang dan kembali lagi ke sarang tersebut sebagai ratu yang baru.
Boleh jadi penduduk koloni tidak membenarkan ratu muda yang muncul lebih dulu membunuh tempayak ratu yang masih tinggal di dalam sel. Kalau demikian setelah ratu kawin terbang, sekembalinya di sarang, maka ratu segera berkomunikasi, dengan cara menekankan kakinya erat-erat pada sisiran sambil mengeluarkan seruan yang bernada tinggi, yang di maksud meminta suatu jawaban dari ratu diseberang sana yang baru lahir ketika ia tinggalkan. Bila terdapat jawaban, maka ratu yang baru datang dari kawin terbang itu terbang lagi bersama dengan sekelompok lebah pengikutnya, merupakan rombongan hijrah yang kedua. Hijrah yang ke dua ini boleh jadi disusul oleh hijrah yang ketiga dan seterusnya, sampai penghuni sarang pada suatu ketika mengambil keputusan untuk memperbolehkan sang ratu muda membinasakan sisa tempayak ratu yang masih ada di dalam sarang, maka dengan demikian berhentilah gelombang hijrah berikutnya.
Hasrat untuk hijrah biasanya terjadi pada saat koloni itu dalam kondisi paling kuat, dimana lebah muda memenuhi sarang, sisiran penuh dengan telur dan tempayak dalam segala tingkatan umur, sedangkan dikebunpenuh dengan nektar dan makanan. Pada saat menjelang keberangkatan, kalau tiba-tiba cuaca buruk, mereka terpaksa menunda keberangkatannya meskipun dengan perasaan rindu. Tetapi sebaliknya jika udara baik dan cerah, mereka hijrah tidak usah menunggu lahirnya calon ratu. Andai kata ratu tua tidak dapat pergi dengan mereka, karena mungkin ratu tidak dapat lagi terbang atau terjepit, kena perangkap, maka sekelompok lebah yang hijrah tersebut dengan tidak sabar kembali lagi ke sarangnya untuk menemukan ratunya. Mereka berputar-putar dihalaman, disekeliling sarang, mengerumuni sang ratu sambil membujuk rayu agar ratu berkenan mengikuti mereka hijrah. Jika percobaan mengajak ratu tadi berulang kali, tetapi ratu tidak tidak juga bersedia ikut, maka hilanglah kesabaran mereka, kemudian dibunuhlah ratu itu. Dalam hal seperti ini hasrat untuk hijrah ditunda sampai calon ratu yang masih dadalam sel lahir.
Koloni yang sedang hijrah terbang sangat aktif disekeliling sarang atau Stup, sehingga koloni lebah tetangga dekatnya dapat terpengaruh oleh keramaian itu. Mereka menggabungkan diri ikut meramaikan suasana keberangkatan kelompok yang mau hijrah dengan maksud menyampaikan selamat jalan, agar rombongan selamat tiba ditempat yang baru. Setelah aktifitas lebah yang terpengaruh tadi kembali, maka koloni yang hijrah terbang bersatu diudara yang tinggi dengan suara yang riuh. Jika ratu kita pegang, semua pengikutnya akan mengikuti hinggap di tangan. Kalau ratu kita pindahkan ke dagu, mereka juga ikut kemana ratu dipindahkan atau berada, disitu pengikutnya mengerumuni.
Koloni yang siap-siap untuk hijrah dapat kita ketahui sebagai berikut :
1. Kesibukan lebah lewat pintu masuk berkurang.
2. Suasana dipintu masuk sepi.
3. Sebagian besar penduduk sarang tinggal didalam, seakan-akan menunggu sesuatu.
4. Adanya sel-sel besar calon ratu yang mau lahir.
5. Selnya terbuka lebar,baik, dan bersih. Tetapi jika ia dibunuh selnya robek, rusak tidak beraturan.
Tag :
HIJRAH LEBAH MADU



0 Komentar untuk "HIJRAH LEBAH MADU"