Assalamuallaikum Wr. Wb, salam jumpa kembali para pembaca yang budiman, kali ini kami penulis ingin membagi pengalaman tentang peti lebah dan rumah lebah, yang kami akan rangkum dalam sebuah artikel dari website kami dari pengalaman dulu dan berbagai sumber dari panduan-panduan kami beserta almarhum Ayah dulu.
Maksud kami adalah bertujuan untuk berbagi atau mensharing pengalaman kami dan sedikit ilmu yang terpendam selama bertahun-tahun, supaya ilmu dan pengalaman kami bisa bermanfaat bagi para pembaca yang Budiman dan lingkungan masyarakat, terutama gemar beternak tentang lebah madu. Baiklah sobat semua dalam pertemuan kali ini kami akan menjelaskan sebagai berikut :
Penemuan peti lebah madu
Kita tahu, bahwa sejak dahulu kala selagi orang masih hidup primitif, telah mengenal dan mengambil madu dari sarang lebah liar didahan kayu, atau gua dengan memakai asap atau api, untuk menghalau lebah dari sarangnya. Kemudian orang telah belajar pula melindungi sarang lebah liar dari gangguan binatang buas pemakan madu yaitu dengan membuat rongga dari kayu, misalnya sarangnya.
Di negara Amerika dan di negara Eropa Timur masih dapat dijumpai tempat sarang lebah madu tradisional yang dibuat dari kayu, batang pohon sepanjang 1 meter dibuat terowongan memanjang. Pada salah satu ujungnya ditutup, kemudian diletakan berdiri. Bentuk tempat saranglebah itu dinamakan long gums.
Gelodok yang terbuat dari batang pohon kelapa
Di negara Mesir masih dijumpai tempat sarang lebah madu yang sederhana yang terbuat dari tabung tanah liat yang dikeringkan dengan sinar matahari dan ditutup pada salah satu ujungnya, yang menyerupai bentuk long gums diAmerika. Sudah barang tentu bentuk tempat sarang lebah madu dalam perkembangan berdeda-beda dari zaman ke zaman.
Sarang lebah madu dalam keranjang yang terbuat dari jerami juga dapat dijumpai di negara Belanda dan Inggris, disamping bentuk peti lebah yang modern. Telah banyak usaha manusia untuk memperbesar hasil madu, dengan mempelajari apa rahasia kehidupan dibalik sarang lebah madu tersebut. Supaya orang dapat membuat tempat sarang lebah madu yang praktis, dapat dipindahkan dan diatur dengan mudah dan cepat menurut kehendak manusia dengan tidak mengganggu dan merusak koloni yang ada didalamnya.
Keranjang sarang lebah madu terbuat dari jerami yang mungil dan artistik
Seorang naturalis buta yang bernama huber yang lahir di Jenewa yang mula-mula menemukan bentuk peti lebah, kemudian disempurnakan oleh langstroth dari USA pada tahun 1851. Penemuan langstroth ini hingga sekarang belum berubah dan tetap digemari orang terutama bagi peternak lebah madu. Sejak itu apiari memasuki taraf teknologi pemeliharaan lebah secara modern.
Peti-peti atau alat-alat dapat dibuat dari pabrik. Segala bentuk atau model stup atau peti lebah madu yang beraneka ragam yang dipakai diseluruh dunia dewasa ini, yang tidak lepas dari bentuk asal dari langstroth. Oleh karena itu ia dijuluki Bapak dari peternak lebah modern.
Langstroth juga telah menemukan antara yang disenangi lebah madu atau Bee – space. Ia meneliti dan memperhatikan penghidupan lebah yang bersarang dirongga kayu, atau sarang lebah madu yang primitif. Ia tahu, bahwa lebah madu selalu membuat lorong kecil antara sisiran yang satu dengan sisiran yang lain untuk lalu lintas.
Mereka memelihara lorong-lorong itu tetap bersih. Langstroth berpendapat, bahwa ada suatu ukuran tertentu yang disenangi oleh lebah madu. Ternyata ia menemukan ukuran tentang bee-space adalah 3/16 - 3/8 inchi. Kalau dibulatkan menjadi 5-9,4 mm, dan rata-rata 8 mm. Tetapi ukuran lebah 6 mm oleh lebah madu tetap tidak diganggu gugat.
Terbukti jika ukuran itu kurang dari 5 mm akan segera ditutup oleh lebah sendiri. Sebaliknya jika ukuran itu lebih dari 9,4 mm, sebagian ruangan akan diperkecil dengan lilin/malam. Oleh karena itu, meskipun Bee-space itu cuman kecil dan kelihatan tidak berarti, tetapi sangat penting artinya bahwa tiap-tiap pembuatan stup yang tidak memenuhi bee-space ini bahwa hasilnya akan lebih jelek daripada tempat sarang lebah madu yang paling kuno.
Khusus untuk pembuatan stup lebah lokal di Indonesia, masih perlu disesuaikan dengan ukurannya. Papan yang murah dari bekas kotak dapat dipakai untuk membuat stup. Lubang kecil bekas paku atau lainnya dapat ditutup dengan tanah liat atau dempul. Kalau papan ini dicat akan tahan sampai beberapa tahun. Cat yang dipakai hendaknya berwarna serba muda. Yang diberi cat hanya bagian luarnya saja, kecuali papan lantai harus dicat lebih tebal di sebelah luar dan dalam, agar mudah membersihkan dan lebih tahan lama, karena bagian itu mudah lekas menjadi rapuk.
Stup yang diletakan berdekatan harus diberi warna yang berbeda-beda. Warna yang dikenali oleh lebah madu yaitu warna putih, kuning, dan biru. Warna hitam juga dikenal oleh lebah, tetapi tidak baik untuk stup. Warna hitam hanya dipakai untuk memberi tanda pada stup.


0 Komentar untuk "PETI LEBAH DAN RUMAH LEBAH"